#ODOPfor99days Putaran Ketiga (Habis)

Bismillah

Menulis adalah episode yang penuh warna,

Adakalanya waktu sangatlah terbatas, banyak hal yang ingin dituliskan namun terbatas waktu dan sumber daya…

Terkadang rasa malas pun hadir… Akses terbatas untuk membuka laptop, tidak adanya jaringan internet dan kesulitan membuka dokumentasi yang tercecer… Menjadi kendala yang signifikan bagi saya pribadi…

Namun demikian, ada rasa yang membuncah, ketika kita dapat menyampaikan apa-apa yang ada di benak kita.. Membuka sedikit tabir akan informasi yang ternyata dibutuhkan… Keterampilan menyampaikan rasa, mengolah kata dan meramu menjadi kalimat mudah cerna adalah sebuah proses… Proses yang akan terus bergulir dari waktu ke waktu.. Inilah kompilasi #OneDayOnePost putaran terakhir :
#day99 Where there’s a will, there’s a way
#day98 Amalan jemput jodoh terbaik
#day97 4 November
#day96 Belajar Menulis ala ABG 

#day95 Karena kematian adalah sebuah kepastian
#day94 Yuk Berperan dalam Pengendalian Rokok di Indonesia
#day93 4 Jenis Makanan Wajib Saat Sahur
#day92 There is No FAIL 
#day91 7 Tips Olahraga Untuk Ibu Menyusui 

#day90 4 Cara Latihan Mindfullness for Writing 
#day89 3 Alasan Mematikan Gadget Sebelum Tidur
#day88 Jogja, Destinasi Ilmu 
#day87 Cara Mudah Miliki Tabungan Emas Pegadaian
#day86 Arti Hari Pendidikan Nasional 

#day85 10 Model Cinta Keluarga Bahagia 
#day84 Cara Lezat Konsumsi Ubi Ungu
#day83 8 Kunci Utama dalam Menulis 
#day82 How To Solve The Biggest Problems With Nutrition
#day81 3 Aturan Menjadi Penulis Bagi Pemula 

#day80 7 Langkah Nyata pada Hari Bumi 
#day79 Mocaf vs terigu bagian kedua
#day78 5 Cara Mengolah Makanan saat Camping
#day77 Project Seumur Hidup
#day76 Why We Love Nutrition (And You Should, Too!)

#day75 Bentuk Pendidikan yang Hakiki
#day74 #ODOPfor99days Putaran Kedua
#day73 Global strategy on diet, physical activity and health
#day72 Cara Brainstorming Online untuk Hasilkan Banyak Ide 
#day71 3 Tips Gizi Pranikah untuk Pria 

Alhamdulillah.. Akhirnya, saya dapat menyelesaikan pertandingan melawan diri sendiri…

Semua berproses dan tak ada yang abadi, kecuali dengan menuliskannya….

odopfor99days putaran ketiga perbaikan adalah abadi

Semoga rangkaian tulisan #ODOPfor99days ini bermanfaat…

@nurlienda

Where there’s a will, there’s a way

Bismillah…

Alhamdulillah pagi ini masih diberikannya kesempatan untuk dapat melihat mentari di Jogja.. Sebuah cerita membuat saya kian terlecut untuk merefleksi diri.. Ya, hari ini adalah hari terakhir di Tahun 2016. Bagi sebagian orang, ini adalah momentum untuk bercermin. Untuk kembali melihat apa-apa yang telat dilakukan selama 364 hari yang lalu.. Bertafakur akan nikmat yang diberikan olehNya.. 

Saya sangat bersyukur, tahun ini allah swt Maha Baik.. Ia telah mempertemukan saya dengan orang-orang yang menginspirasi.. Orang-orang yang dengan kesederhanaannya terus berkhidmat kepadaMu.. Mencurahkan segala potensi untuk beribadah kepadaMu… 

Ya, Tahun ini bagiku adalah sebuah awalan baru.. di tempat yang baru.. Dan bagaikan sebuah pengingat diri, penutup tahun 2016 ini saya merasakan kembali sebuah pepatah : 

Where there’s a will, there’s a way

Saya memiliki project seumur hidup, menjadi Hafidzhoh, insya allah… Guna menjalankan project itu, saya yang masih terbata-bata membaca dan menghafalkan ayat-ayat Qur’an ingin belajar lebih… Tawaran mengikuti Camping Quran di UNS bak angin segar.. Agenda ini berlangsung sejak 30 December hingga 1 Januari 2017, insya allah… Ya, saya sangat ingin mengikuti nya.. 

Tanggal 30 December 2016, saya terjadwal mengikuti perkuliahan hingga pukul 15.00 wib. Waktu yang cukup mepet untuk berburu Tiket prameks Jogja-Solo jam 18. Dengan berbekal tekad yang kuat untuk ikut Camping Quran, saya pun ke stasiun tugu.. Di loket reservasi, terlihat antrian yang sangat panjang, padahal ini baru jam 15.50 wib. Saya pun memberanikan diri bertanya kepada petugas tentang tatacara pembelian tiket prameks, maklum ini pengalaman Perdana hehe.. 

Petugas informasi menyatakan bahwa tiket prameks jam 18 wib sudah habis. Antrian yang terjadi untuk pembelian tiket prameks jam 20 wib. Wah.. lumayan juga, saya pun ikut mengantri di loket 1 karena penjualan tiket dilakukan 3 jam sebelum berangkat, yang artinya, jam 17.15 baru bisa dilakukan… Berburu dalam antrian mulai pukul 16 wib pun saya lakoni, dengan harapan mendapatkannya.. Satu per satu mendapatkan tiketnya. Namun mengapa penjualannya begitu lambat ? Setelah mencari tau penyebabnya ternyata mesinnya tidak beroperasi optimal sehingga dilayani manual dengan menulis 1 per satu dan mengecek sisa kursi secara offline oleh petugas… Tinggal 5 antrian lagi, yeay… Dan ternyata… tiketnya habis… 

Rasa penasaran kian memuncak. Saya pun mendatangi bagian customer service, mencari informasi kereta lain menuju solo. Ia menyatakan tersedia 60 tiket kereta malioboro express jam 20.45 wib dan dijual pukul 18.45 wib dengan harga 35 ribu untuk kelas ekonomi dan 50 ribu eksekutif. Wah.. Harga tiketnya lumayan… Harus tetap antri dan tunggu lagi nih.. Setelah kehabisan tiket jam 17.50 wib, antri untuk 18.45 wib.. Bismillah, kita coba aja.. Tepat pukul 18.50 wib penjualan tiket via finnet (membayar uang cash menggunakan mesin operator) sudah bisa dilakukan. Saya pun membeli 2 tiket ekonomi, yang sesuai kantong..

Saya bergegas menuju kontrakan, tapi ini Jogja long weekend, kawan.. Jalanan padat merayap.. Ketika tiba di kontrakan, saya pun segera berkemas.. Dan memesan gojek.. Namun setelah ditunggu beberapa saat, aplikasinya tak beroperasi dengan baik. Saya pun memutuskan untuk mengendarai motor menuju stasiun tugu… Lalu lintas lebih padat daripada sebelumnya… Astagfirullah… Apa pun yang terjadi, saya pasrah… Setelah memarkirkan kendaraan yang jauh dari pintu masuk, ternyata kereta malioboro expressnya baru saja berangkat.. hiks3x

Sekembalinya ke kontrakan, saya berdiskusi tentang rencana lain menuju Solo, yakni menggunakan sepeda motor.. Ya, insya allah.. Bada shubuh, kita akan mengendarai motor, boncengan.. Begitulah rencananya.. Akan tetapi, partner saya membatalkan rencana itu.. Saya sangat ingin ikut Camping Quran.. Ya Allah, berilah jalan, batinku. Saya pun bersiap, jika memang ini rezekinya saya, saya akan bisa mengikuti nya.. Rencananya saya akan mencoba ke Stasiun Tugu, Barangkali masih tersisa tiket Prameks pukul 5.30 wib, jika tidak, saya akan bermotor ria, ke Solo..

Bismillah.. Saya kendarai motor milik sahabat di kontrakan, menuju Stasiun Tugu.. Bergegas menuju parkiran dan loket penjualan.. Petugasnya bilang masih ada tiket prameksnya.. alhamdulillah… Saya bisa ke ikut Camping Quran di Solo.. Alhamdulillah Ya Rabb.. Mudahkan perjalanan saya menyongsong cita-cita menjadi Hafidzhoh… Mohon doanya…

Dimana ada kemauan disana ada jalan, insya allah… La haula wala quwwata Illa billah
@nurlienda

#OneDayOnePost

#day99

Belajar Menulis ala ABG

Bismillah

Menjadi ‘ABG’ itu asyik loh…

Periode ABG yang merupakan masa-masa paling menantang, cari jati diri  dan serba ingin tau.. Nah, masa-masa ABG bisa dijadikan metafora untuk menulis loh dengan cara Aktif, Baca, Gaul.

Ya, jika ingin menulis… Kita pun harus “aktif”. Ya, seaktif-aktifnya, dalam berbagai kegiatan. Hadirilah berbagai pertemuan-pertemuan seperti seminar, workshop, diskusi, pertunjukan seni maupun acara-acara di sekitar kita, dan jangan sungkan-sungan menunjuk tangan jika ingin bertanya. Sudah tidak zamannya untuk takut-takut seperti masa sekolahan; duduk paling belakang sebab takut disuruh guru mengerjakan tugas di depan. Aktifnya diri akan melapangkan jejaring dan ikatan persaudaraan. Kita akan mudah beradaptasi, kapan pun dan dimana pun, selain itu kita akan terlatih dalam situasi dan kondisi apa pun yang kelak akan berguna ketika menjadi penulis.

“Baca” sudah pasti, dan ini paling klasik di dunia tulis-menulis. Para penulis selalu mewanti-wanti, kalau mau jadi penulis jadi pembacalah terlebih dahulu. Kalau nggak mau baca, kamu tetap bisa menulis, tapi tulisanmu garing, tidak bersumber dari pengetahuan yang dimiliki. Orang yang membaca saja tanpa menulis, sama seperti orang memasukkan makanan terus menerus ke tubuhnya, lama-lama perutnya kembung. Tidak ada pengeluaran dari tubuhnya. Kalau menulis saja tidak membaca, persis mengeluarkan sesuatu dari tubuh terus menerus tanpa isi ulang. Bacalah berbagai sumber tulisan; buku, koran, majalah, tulisan-tulisan di internet, iklan-iklan di jalanan, dan segala huruf yang kamu temukan yang bisa dibaca!

 

belajar menulis ala abg

Jadilah anak “gaul”. Kumpulkan banyak teman. Bukan hanya teman yang senasib, tapi jadikan teman-teman lain yang nasibnya lebih baik darimu. Kalau temanmu senasib, ya nasibmu bakal begitu-begitu saja, tidak ada perubahan. Tapi jika teman nasibnya lebih baik darimu, kamu akan dapat menjadikan dirinya sumber inspirasi dan motivasi bagimu untuk hidup lebih baik….

Menulis itu butuh proses. Kita yang bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa hari ini, jika terus belajar dan berusaha, kelak akan menjadi apa-apa dan menjadi siapa. Bahkan, jika kamu bersungguh-sungguh, karya dan prestasi kita akan melampaui karya dan prestasi teman-teman. Kita bisa membuktikannya kok. Berjuanglah!

Ingatlah bahwa sebaik-baik teman adalah yang mau menunjukkan jalan, memberi tahu kelemahan dan kekurangan karyamu, bukan sekadar memuji setinggi langit hingga membuatmu lupa bahwa kakimu menginjak bumi…

Menulis adalah pekerjaan jangka panjang dan kita tidak boleh menunda-nundanya

Semakin lama kita menunda, maka mimpi untuk menjadi penulis yang sudah didamba, boleh jadi tidak akan pernah ada.

@nurlienda

#‎ODOPfor99days‬

#day96

Yuk Berperan dalam Pengendalian Rokok di Indonesia

Bismillah

Prevalensi merokok di Indonesia mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Tahun 2013, proporsi penduduk Indonesia usia 15 tahun ke atas yang merokok sebesar 36.3%. Proporsi merokok ini mengalami kenaikan sebanyak 2.1% dari proporsi merokok tahun 2007 34.2 %. Perilaku merokok ini dilakukan juga oleh remaja awal sebagai perokok pemula. Survei Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2015, prevalensi merokok di Indonesia sebesar 36% laki-laki dan 4,3% perempuan usia 10 tahun ke atas yang diklasifikasikan sebagai perokok, menempati salah satu urutan tertinggi di dunia. Perilaku merokok yang tinggi ini nampaknya tidak terpengaruh oleh himbauan tentang bahaya rokok yang tertera di kemasannya.

Mayoritas perokok di Indonesia adalah kalangan miskin, kelompok masyarakat yang tidak bekerja (9.9%) dan kelompok masyarakat berdaya ekonomi rendah, seperti buruh, petani, atau nelayan (32.3%). Tidak mengherankan bila fakta membuktikan bahwa pengeluaran yang tinggi untuk rokok pada keluarga miskin telah mengesampingkan hak anggota keluarga (terutama ibu dan anak) untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Sehingga pengeluaran rumah tangga untuk rokok mereduksi pengeluaran untuk kebutuhan pokok. Masyarakat yang merokok memiliki risiko yang lebih tinggi pada kejadian morbiditas dan mortalitas akibat penyakit degeneratif, sehingga produktivitas kerja akan berkurang dan berdampak pada pendapatan mereka.

Kita dapat berperan dalam pengendalian rokok berupa :
1. Advokasi
Pengendalian rokok memerlukan advokasi lintas sektor, bukan hanya ahli gizi dan tenaga kesehatan lainnya namun memerlukan advokasi pada lembaga-lembaga terkait, organisasi masyarakat, pihak swasta dan industri tembakau. Ahli gizi dapat melakukan advokasi baik berupa media cetak maupun pertemuan-pertemuan formal dan non-formal serta mendukung dalam penyusunan kebijakan.

2. Promosi Kesehatan
Multilevel promosi kesehatan dapat dilakukan bersama komunitas dan organisasi, bersinergi dengan tenaga promkes pada level Puskesmas, Rumah Sakit maupun Dinas Kesehatan. Selain itu secara individu maupun institusi, ahli gizi dapat mengoptimalkan berbagai media baik cetak maupun digital. Pemanfaatan sosial media dan integrasi dalam mata pelajaran di Sekolah (Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Biologi) dengan target remaja awal dan perokok pemula dapat dijadikan agenda pokok untuk meningkatkan derajat kesehatan sumber daya manusia di masa yang akan datang. Penggunaan facebook, blog, instagram dan sosial media lainnya dalam penyebaran informasi mengenai pengendalian tembakau perlu dilakukan secara masif, menarik dan terstruktur agar dapat dipahami oleh remaja.

Yuk Berperan dalam Pengendalian Rokok di Indonesia

Sumber gambar disini

3. Penguatan Pengendalian Rokok di Rumah Tangga
Mengedukasi dan memberikan social support tentang Perilaku Hidup Sehat dan Bersih (PHBS) yakni tidak merokok di dalam rumah dan berhenti merokok dengan cara bersinergi bersama tenaga promkes, para ketua PKK, kader dan posyandu yang menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan di masyarakat. Hal ini perlu dilakukan karena jika dalam suatu keluarga ada seorang perokok, maka anggota keluarga lain juga dapat terkena dampak penyakit akibat menghirup asap rokok tersebut (perokok pasif), sehingga akan membutuhkan biaya perawatan kesehatan. Kematian bayi dan balita pada keluarga miskin perokok lebih tinggi dibandingkan non-perokok. Perbandingan angka kematian balita pada keluarga dengan ayah perokok dan bukan perokok adalah 8,1%. vs 6,6% di perkotaan; 10,9% vs 7,6% di pedesaan.

Merokok berpengaruh pula terhadap status gizi dan penyerapan beberapa zat gizi sehingga edukasi mengenai kebiasaan merokok yang berdampak pada kecukupan gizi keluarga perlu dilakukan. Perokok di Indonesia menghabiskan 11.5% pengeluaran untuk membeli rokok, sedangkan untuk membeli bahan makanan bergizi, seperti ikan, daging, telur, dan susu hanya sekitar 11%. Hal ini tentu berdampak pada anggota keluarga lain, karena alokasi pengeluaran untuk membeli bahan makanan bergizi berkurang, terjadi risiko malnutrisi pada anggota keluarga lain, terutama pada anak dan dapat menyebabkan kematian. Kebiasaan merokok dapat dialihkan untuk membeli berbagai macam bahan makanan yang bergizi, seperti lauk hewani, buah-buahan dan sayur.

Penelitian Pfeiffer et al. (2013) menjelaskan bahwa kadar folat, vitamin C, 4PA (4-pyridoxic acid serum sebagai hasil akhir katabolisme vitamin B6) dan PLP (pyridoxal-5’-phospate sebagai indikator vitamin B6) pada perokok lebih rendah daripada non-perokok. Kadar vitamin C yang rendah dalam tubuh dapat menyebabkan radikal bebas dalam tubuh meningkat, sehingga dapat meningkatkan risiko penyakit degeneratif.

4. Pemberdayaan Masyarakat
Role model untuk tidak merokok (bentuk personal action) yang didukung dengan keluarga bebas rokok (small group), menginisiasi dan mengupayakan lingkungan sekitar untuk menjadi kawasan tanpa rokok (KTR). Langkah pemberdayaan masyarakat lainnya adalah dengan membentuk partnership dengan tokoh masyarakat, organisasi masyarakat, lembaga-lembaga dan pihak swasta untuk mendukung bebas asap rokok pada area publik sehingga bisa meningkatkan kesadaran masyarakat dan para aktivis untuk hidup bebas rokok dan dapat melakukan advokasi kepada pemerintah dan lembaga terkait (social and political action).

5. Konseling kepada Perokok
Konseling dilakukan dengan memberikan informasi mengenai kerugian merokok dari segi kesehatan dan finansial keluarga menggunakan pendekatan cost benefit jika berhenti merokok (alokasi pembelian rokok untuk 1 orang dapat dialihkan untuk berbelanja bahan makanan bergizi untuk 1 keluarga). Pemberian tips untuk berhenti merokok berupa mengganti kebiasaan merokok dengan mengunyah permen karet (sugar-free), anjuran untuk menyiapkan buah segar atau jus buah saat craving. Mereka dapat segera mengonsumsi buah segar atau jus sebagai pengganti rokok.

Berbagai upaya untuk pengendalian penggunaan tembakau (rokok) diharapkan dapat menurunkan angka kebiasaan merokok dan mencegah perokok pemula…

Yuk saling menguatkan untuk menjadikan lingkungan sekitar bebas asap rokok…

Untuk hidup yang lebih baik, insya allah…

@nurlienda

#‎ODOPfor99days‬

#day94

5 Cara Mengolah Makanan saat Camping

Bismillah…

Libur telah tiba, saatnya beraktivitas outdoor seperti camping bersama keluarga, sahabat maupun rekan kerja…

Jika menyiapkan makanan saat camping telah dibahas disini

Cara pengolahan selama camping pun penting untuk diperhatikan…..

Kita akan membahas lima cara mengolah makanan saat camping :

1. Menggoreng

Cara memasak yang paling mudah dan menambah asupan energi dari segi lemak. Tapi ketika semua masakan diolah dengan cara demikian, radang tenggorokan dapat menjadi efek samping setelah mengonsumsinya… Jadi bijaklah dalam mengonsumsi makanan yang digoreng-goreng ya, apalagi saat bepergian dan beraktivitas outdoor

2. Merebus

Mudah, tapi cenderung menghabiskan banyak bahan bakar… Warna yang dihasilkan lebih pucat, cocok untuk suasana dingin, makanan berkuah menjadi nilai tambahnya dan sup adalah andalannya…

3. Menumis

Memasak dengan sedikit minyak ini, mempertahankan zat gizi dari segi vitamin dan mineral lebih baik untuk sayur. Lauk yang dimasak dengan cara ini pun lebih baik tampilannya. Pengkayaan rasa dari bumbu dasar diperlukan dalam pengolahan ini.

4. Dibakar

Membakar lauk, menghasilkan aroma khas yang meningkatkan selera makan, cocok ketika nafsu makan menurun akibat kelelahan… Sebaiknya dipergunakan sesekali saja.. Efek aromatik dari pembakaran ternyata bisa menjadi bahan karsinogen, pemicu kanker jika berlebih ambang batasnya.

5. One Dish Meal

Menggabungkan komponen karbohidrat, lauk dan sayur menjadi 1 hidangan adalah pilihan yang cocok ketika waktu memasak terbatas. Nasi goreng adalah salah satu hasilnya…

Makanan yang tersedia, apapun ketika lapar mendera, akan menjadi makanan terbaik, terlezat..

Dengan menyiasati komponen makanan, akan membantu kita dalam menjaga kebugaran tubuh dan badan agar tetap fit ketika beraktivitas.

5 cara mengolah makanan saat camping

Tips ketika beraktivitas outdoor seperti camping :

Susu adalah suplemen tambahan. Tidak hanya berfungsi sebagai sumber protein, juga mengatur keseimbangan ketika terjadi keracunan. Suplemen yang perlu dibawa adalah vitamin C dengan takaran 50-100 mg/hari, vitamin B1 untuk menjaga metabolisme tubuh tetap terjaga dan adaptasi maksimal.

Semoga bermanfaat…

@nurlienda

#‎ODOPfor99days‬

#day78

Project Seumur Hidup

Bismillah

Ketika sedang memegang sebuah project atau program, apa yang sahabat rasakan ?

Antusias, menggebu-gebu dalam mengerjakannya, full power dan passionate ?

Apakah sahabat memiliki sebuah project seumur hidup ?

………………………………………………………………………………..

Bagi saya, “Hafidzah itu proyek hidup!”

Menyelesaikan setoran dengan lisan terbata, tak lancar-lancar itu biasa. Ditegur sahabat sebab ayat-ayat lupa, kurang dan diulang-ulang akhirnya berputar-putar. Namun ketika teringat Syaikh Sudais yang sempat lupa satu ayat, asaku kembali bangkit bahwa tiada yang sempurna, melainkan perjuangan penuh pengorbanan.

“Hafidzah itu proyek hidup!”

Akan kukatakan, ketika diri ini futur, tak mau lanjutkan hapalan.

Sering mandet dan tak ada waktu untuk menambah dan mengulang hapalan.

Bukankah sebenarnya kita yang sering cari alasan?

Alasan-alasan klasik tak sempat bercengkrama dan berjumpa dengan Al quran….

Hanya menggunakan waktu sisa untuk bermesraan dengannya penuh ketenangan?

Astagfirullah…..

Layakkah kita memberikan waktu sisa untuk Quran?

“Hafidzah itu proyek hidup! ”

Akan kucoba untuk semangati diri, ketika tak kunjung kuat hapalan namun usia terus berputar penghabisan. Hafalan itu kita perjuangkan seumur hidup, kita ulang seumur waktu, kita tanam sedalam qalbu.

Bukan sehari hapal, atau sebulan hapal, setahun hapal. Tapi kita ulang ulang, bahkan tiada berkehabisan….

“Hafidzah itu proyek hidup!”

Ada orang yang setahun hapal, dua tahun hapal bahkan 30 hari hapal. Tapi bukan cepat atau waktu hapal, hafidz/ah adalah tentang kau menjaganya sepanjang zaman, setegar jiwa. Menghapalnya dalam kesulitan dan kemudahan.

“Hafidzah itu proyek hidup!”

Kala muda kala tua. Tak pandang usia, yang terpenting adalah kita memulainya, menjaga dan bersemangat bersamanya. Tak peduli kau jatuh, lupa, dan tertinggal….

“Hafidzah itu proyek hidup!”

Membaca al-quran, menghafalkan dan mengamalkannya tidak akan mengurangi waktu…

Secara hitungan matematika dunia, membaca al-quran tampak seolah-olah mengurangi waktu. Padahal waktu yang digunakan untuk membaca al-quran itu tidak hilang, ia akan diganti oleh allah swt dengan keberkahan yang berlipat ganda… Insya allah

project seumur hidup

Mohon doanya, sahabat…

Allahumma Yassir Wala Tuassir, Hasbunallah
Laa illaha illa anta subhanaka inni
kuntumminadzholimin….

@nurlienda

#‎ODOPfor99days‬

#day77

Bentuk Pendidikan yang Hakiki

Bismillah
Pendidikan merupakan sarana untuk merubah nasib seseorang,
Salah satu upaya untuk memutus mata rantai permasalahan,
Dan terkadang menjadi sebuah mekanisme yang ramai diperbincangkan masyarakat…

Apa sih tujuan pendidikan ?
Untuk Apa kita menjalani pendidikan ?
Pendidikan formal, non formal, maupun informal yang telah dilakoni selama belasan tahun….

Lima bentuk pendidikan sebagai tujuan yaitu :
1. Spiritual: Cara untuk mencapai tujuan Hidup. Belajar dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah swt, agar derajat naik di hadapan-Nya, agar visi hidup tercapai, dsb.
2. Individu: Guna mencapai harapan pribadi. Ingin menyandang gelar, ingin menjadi contoh bagi anak…
3. Sosial: Untuk kebermanfaatan bagi orang lain. Misalnya agar bisa menghasilkan karya untuk umat, membangun lembaga dan gerakan untuk membantu orang lain, dll.
4. Instrumental: Terkait syarat gelar, ijazah, dan level pendidikan untuk mendapat jabatan. Agar naik pangkat jadi manager, kepala bagian bahkan diangkat direktur.
5. Vokasional: Terkait kompetensi yang ingin dikuasai. Belajar teknik memasak, agar mampu merancang menu sehat, bergizi dan seimbang untuk keluarga…

Yuk dicek, manakah yang hilang atau sering kita lupakan ?
Mana yang sekedar kita pikirkan dan ucapkan di awal namun lewat sambil lalu saja saat menjalani sebuah pendidikan ?
Mana yang benar-benar kita jadikan pegangan dan tak pernah lepas dari pikiran sebagai sebuah tujuan kuat yang kita kejar ?

bentuk pendidikan yang hakiki bercermin pada pagar inspiratif

Sebuah pengingat diri, akan bentuk pendidikan yang hakiki… Semoga tulisan ini bermanfaat….
Disarikan dari tulisan Dr. Yosal Iriantara

@nurlienda

#‎ODOPfor99days‬

#day75