Mengenal Thalasemia Lebih Dekat

Bismillah…..

Pernah mendengar Thalasemia ?
Apa yang ada dibenak sahabat ketika mendengar Thalasemia?

Thalasemia merupakan PENYAKIT KETURUNAN BERBAHAYA MELANDA INDONESIA KHUSUSNYA JAWA BARAT loh…

Apakah dampak bagi si penderita penyakit tersebut?

Apakah penyakit tersebut berbahaya?

Apakah ciri-ciri penyakit tersebut?

Bagaimana cara pencegahan penyakit tersebut?

Bagaimana penyebaran penyakit tersebut saat ini?

 

Thalasemia adalah kelainan pada darah akibat sumsum tulang belakang tidak bisa membentuk protein untuk memproduksi sel darah merah (hemoglobin/Hb). Jadi bagi si penderita penyakit Thalasemia kadar Hb di dalam tubuhnya kurang dari 12 gr/dL. Penyakit ini merupakan penyakit bawaan dari orang tua.

Berdasarkan tingkat keparahannya Penyakit Thalasemia dibagi menjadi 3 yaitu Thalasemia Minor, Thalasemia Intermediet, dan Thalasemia Mayor.

Bagi penderita yang mengalami thalasemia minor hanya memiliki sifat bawaan Thalasemia saja (Carrier). Si penderita akan hidup secara normal. Sedangkan bagi penderita yang mengalami thalasemia mayor, saat lahir masih normal. Namun menginjak usia 3 bulan mulai mengalami anemia berat. Efeknya bentuk tulang wajah berubah dan warna kulit menjadi hitam. Selama hidupnya penderita akan tergantung pada transfusi darah. Ini dapat berakibat fatal, karena efek sampingan transfusi darah terus menerus yang berupa kelebihan zat besi (Fe). Akibatnya bisa merusak organ tubuh seperti jantung, paru-paru, limpa, dan keropos tulang.

Bagaimana ciri-ciri Thalasemia?

Salah satu ciri fisik dari penderita thalasemia adalah kelainan tulang yang berupa tulang pipi masuk ke dalam dan batang hidung menonjol (disebut gacies cooley), penonjolan dahi dan jarak kedua mata menjadi lebih jauh, serta tulang menjadi lemah dan keropos.

Bagaimana cara mengobati Thalasemia?

Untuk mengurangi penumpukan zat besi, penderita thalasemia harus minum obat secara rutin dengan diet khusus. Setiap minggunya penderita harus melakukan transfusi darah untuk meningkatkan hemoglobinnya dan minum obat setiap hari untuk mengurangi zat besi.

Bisa dibayangkan betapa mahalnya biaya untuk transfusi darah dan minum obatnya dari efek penyakit tersebut. Menurut data, si penderita Thalasemia menghabiskan uang sebesar Rp 8.000.000 / bulan. Dan beberapa tahun ini si penderita Thalasemia hanya mampu hidup sampai usia belasan tahun. Di Indonesia diperkirakan ada 5.000 penderita thalasemia mayor. Dari Jumlah tersebut, 1.700 orang di antaranya ada di Jabar. Kematian penderita thalasemia biasanya disebabkan komplikasi penyakit.

Bagaimana Diet Thalasemia itu ?

Diet rendah zat besi salah satu alternatif kombinasi obat untuk mengurangi kelebihan zat besi di dalam tubuh. Hal ini dilakukan guna mencegah kelebihan zat besi di dalam tubuh yang akan berubah menjadi racun,

Makanan yang perlu dihindari adalah sumber protein yang kaya zat besi seperti hati, daging sapi dan daging merah lainnya, kerang, kacang-kacangan, tahu, tempe dan selai kacang.  Selain itu sayuran yang berwarna hijau seperti bayam, kangkung, brokoli, dsb. Buah pun ada yang perlu dibatasi seperti semangka, kurma, kismis.

Vitamin D, Folat dan Kalsium dibutuhkan tubuh dalam jumlah yang cukup. Kalsium bisa diperoleh dari produk susu seperti yogurt, keju, dan susu. Makanan yang kaya folat biasanya juga mengandung zat besi yang cukup tinggi. Oleh karenanya, jika dibutuhkan perlu berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu. Vitamin D diperoleh dengan cara berjemur pada sinar matahari pagi jam 7-9 sekitar 15 menit.

Your skin can synthesize vitamin D with the help of ultraviolet rays from the sun.

Bagaimana cara untuk mencegah terjadinya Thalasemia?

Untuk mencegah thalasemia salah satu caranya dengan menghindari pernikahan antar sesama pembawa sifat Thalasemia, karena menurut teori kromosom Jika Pembawa sifat Thalasemia (carrier) menikah dengan Pembawa Sifat Thalasemia (Carrier), Rr >< Rr peluang keturunannya 25% sehat (RR), 50% carrier(Rr), dan 25% penderita Thalasemia (rr). Apalagi jika Penderita Thalasemia menikah dengan Pembawa sifat Thalasemia atau Manusia normal. Dengan salah satu cara ini kita akan memutus perkembangan penyakit keturunan Thalasemia.

Sehingga kita harus mengetahui status kita itu sebagai apa, sebagai manusia normal, manusia pembawa sifat Thalasemia, atau manusia penderita thalasemia. Untuk mengetahui hal itu maka kita harus mengecek darah terlebih dahulu. Info tentang penyakit Thalasemia bagi penduduk Indonesia masih sangat minim sehingga masih banyak masyarakat yang tidak tahu akan hal ini.

Penyebaran Penyakit Thalasemia di Jawa Barat 

Jawa Barat merupakan provinsi terbanyak penderita Thalasemia mayor di Indonesia. Dengan jumlah penduduk sekitar 43 juta jiwa, bila frekuensi pembawa sifat 5-10% dan angka kelahiran 20%, maka diperkirakan setiap tahunnya akan lahir bayi thalasemia berat sebanyak 500-600 orang. Ngeri… Jadi, marilah kita bangun kesadaran untuk mengenal diri, calon pasangan dan riwayat kesehatannya. Penyakit ini bisa dicegah dan diminimalisir keberadaannya… Mari kita sebarkan info ini ke masyarakat dan segera putuskan perkembangan penyakit keturunan Thalasemia..

Semoga bermanfaat…

@nurlienda

 

Referensi :

Talkshow Thalasemia di Institut Teknologi Bandung 29/01/2012 dengan Narasumber Dokter, Penderita Thalasemia, dan Ibu pengasuh Thalasemia dalam acara Mechanical Charity HMM ITB

http://www.livestrong.com/article/390613-thalassemia-major-nutrition/

 

Advertisements

Komentar Sahabat, Penambah Semangat Saya :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s