Maaf

Bismillah…

Maaf, satu kata yang terkadang mudah untuk diucapkan, namun seringkali sulit untuk diungkapkan…

Permohonan maaf atas segala khilaf, adalah satu bentuk menyadari akan kekhilafan yang pernah dibuat, baik terasa maupun tidak.

Berbagai cara bisa dilakukan, mulai dari mengirim lewat sms hingga bertemu secara “gentle” untuk meminta maaf. Berikut adalah langkah-langkah meminta maaf:

1. Fikirkan apa yang telah berlaku dan perbuatan apa yang anda mau dimaafkan.

2. Tuliskan perkara tersebut; ini akan membantu anda mengatur idea dan meredakan ketegangan perasaan anda.

3. Berlatih perkara yang anda hendak diucapkan sehingga anda merasa selesai dengannya.

4. Nyatakan dengan jelas perbuatan yang anda mau dimaafkan.

5. Mengakui perbuatan anda tanpa mengemukakan alasan secara sembarangan.

6. Berpadu dengan perasaan anda mengenai apa yang telah terjadi  daripada menyalahkan orang lain, membesar-besarkan cerita atau menyebutkan kata-kata yang sia-sia.

7. Mendengar respon daripada orang berkenaan tanpa mempertahankan diri.

8. Tawarkan diri untuk memperbaiki keadaan sekiranya sesuai.

9. Teruskan kehidupan. Apabila anda telah meminta maaf, lupakannya dan biarkan ia berlalu.

Maaf

Hal yang perlu diperhatikan dalam meminta maaf:

* Fikirkan bahwa meminta maaf itu sebagai satu komitmen terhadap berhubungan dan bukannya satu kelemahan diri.

* Ikhlas. Meminta maaf terhadap perkara-perkara yang anda benar-benar merasa bertanggungjawab terhadapnya; jangan meminta maaf hanya semata-mata untuk menjernihkan suasana.

* Beri waktu kepada orang yang bersangkutan untuk menenangkan perasaannya – jangan merasa sakit hati sekiranya anda tidak dimaafkan sepenuhnya pada masa anda meminta maaf.

apologize

Bagaimana ‘Maaf’ Dalam Pandangan Islam?

Setiap manusia pernah melakukan kesalahan. Kesalahan, kekhilafan adalah fitrah yang melekat pada diri manusia.

Rasulullah saw bersabda: “Setiap manusia pernah melakukan kesalahan, dan sebaik-baik pelaku kesalahan itu adalah orang yang segera bertaubat kepada Allah SWT”.

Ini berarti bahwa manusia yang baik bukan orang yang tidak pernah berbuat salah, sebab itu mustahil kecuali Rasulullah SAW yang ma’shum (sentiasa dalam bimbingan Allah SWT). Tetapi, manusia yang baik adalah manusia yang menyadari kesalahannya dan segera bertaubat kepada-Nya. Dalam Islam, mampu memaafkan kesalahan orang lain merupakan salah satu ciri orang yang bertaqwa (muttaqin).

Allah SWT berfirman: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu, Allah menyediakan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. Yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya baik diwaktu lapang atau sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain, Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Al-Imran: 133-134).

Ibnu Qudamah dalam Minhaju Qashidin menjelaskan bahawa makna memberi maaf di sini ialah sebenarnya engkau mempunyai hak, tetapi engkau melepaskannya, tidak menuntut qishash atasnya atau denda kepadanya. Quraish Shihab dalam Membumikan Al-Quran menjelaskan: Kata maaf berasal dari bahasa Al-Quran alafwu yang berarti “menghapus”, yaitu yang memaafkan menghapus bekas-bekas luka di hatinya. Bukanlah memaafkan namanya, apabila masih ada tersisa bekas luka itu didalam hati, bila masih ada dendam yang membara.

Boleh jadi, ketika itu apa yang dilakukan masih dalam tahap “masih menahan amarah”. Usahakanlah untuk menghilangkan noda-noda itu, sebab dengan begitu kita baru boleh dikatakan telah memaafkan orang lain. Islam mengajak manusia untuk saling memaafkan. Dan memberikan posisi tinggi bagi pemberi maaf. Karena sifat pemaaf merupakan sebagian dari akhlak yang sangat luhur, yang harus di ikuti bagi seorang Muslim yang bertakwa.

Allah swt berfirman: “…Maka barang siapa yang memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas tanggungan Allah.” (Q.S.Asy-Syura : 40).

apologizing

Memaafkan adalah menghilangkan keinginan diri untuk memberikan balasan atas sesuatu yang tidak disenangi. Sehingga memaafkan diganjar kebaikan luar biasa,

Karna menahan amarah yang menggema, dan mengganti ‘pembalasan’ yang boleh jadi tidak baik (meski ‘ingin’ rasanya), dengan mengikhlaskan atasnya.

Sederhananya; kita punya hak untuk melakukan ‘pembalasan’, tetapi tidak kita pergunakan.

Dari Uqbah bin Amir, dia berkata:

“Rasulullah SAW bersabda, “wahai Uqbah, bagaimana jika aku beritahukan kepadamu tentang akhlak penghuni dunia dan akhirat yang paling utama? Hendaklah engkau menyambung hubungan persaudaraan dengan orang yang memutuskan hubungan denganmu, hendaklah engkau memberi orang yang tidak mahu memberimu dan maafkanlah orang yang telah menzalimimu.” (HR.Ahmad, Al-Hakim dan Al-Baghawy).

Al-Quran memang menetapkan, bahwa seseorang yang diperlakukan secara zalim diizinkan untuk membela diri tapi bukan didasarkan balas dendam. Pembelaan diri dilakukan dengan penuh simpati seraya menunjukan pribadi yang luhur, bersabar, memaafkan dan toleran. Ketika Matsah yang dibiayai hidupnya oleh Abu Bakar menyebarkan gosip yang menyangkut kehormatan puterinya, Aisyah yang juga isteri Nabi.

Abu Bakar bersumpah tidak akan membiayainya lagi. Tapi, Allah melarangnya sambil menganjurkan untuk memberika maaf dan berlapang dada.

Forgiveness

Apakah memaafkan identik dengan memberikan kesempatan kedua, atau bahkan terus berlanjut?

Memaafkan itu ibarat kunci pembuka pintu di sudut hati, yang tertutup rapat karna ulah sakit hati. Sedangkan memberi kesempatan untuk kesekian-sekian, adalah mempersilahkan sesuatu yang telah berbuat tidak menyenangkan, untuk terus bersinggungan.

Memberi kesempatan kedua tentu lebih membawa beban, ketimbang memaafkan.

Memberi kesempatan lagi, jelas memaksa diri untuk mempercayai kembali,  seseorang yang telah menyakiti.

Dan itu sulit, bukan?

Terlebih hati setiap orang tidak sama.

Ada yang mudah memberi kesempatan kedua, ketiga, bahkan lebih darinya.

Namun di sisi lain ada orang yang sukar melakukannya.

 

Sebenarnya, memberi maaf pun sudah luar biasa.

Tetapi, coba kita cermati; ternyata Allah berulang-ulang,

memberi kesempatan berupa perubahan bagi setiap orang.

Kesempatan agar manusia memperbaiki diri,

tidak hanya satu kali, tetapi berkali-kali.

Lantas kita? Sesosok makhluk yang begitu banyak dosa? Dengan angkuhnya tidak mau memberikan kesempatan kedua?

Ehm, dan lagi-lagi kita cuma manusia biasa.

Satu hal lagi, kita tidak tahu masa depan, bukan?

Andai di hari ini kita mampu memberi kesempatan kedua bagi seorang manusia,

maka boleh jadi di suatu hari yang tidak kita duga,

akan ada yang memberikan kesempatan kedua,

disaat kita membutuhkannya.

Ya, karna setiap orang berhak mendapat kesempatan kedua,

agar lebih baik dari sebelumnya.

Agama mengajarkan memberi maaf itu keindahan,

juga kedewasaan.

Dan ini hanya pilihan;

memaafkan lantas mempercayainya lagi,

atau tidak mempercayainya lagi,

meski sudah dimaafkan.

Dalam Q.S. an-Nur ayat 22 ternyata ada tingkatan yang lebih tinggi dari alafwu (maaf), yaitu alshafhu. Kata ini pada mulanya berarti kelapangan. Darinya dibentuk kata shafhat yang berarti lembaran atau halaman, serta mushafahat yang bererti berjabat tangan. Seorang yang melakukan alshafhu seperti anjuran ayat diatas, dituntut untuk melapangkan dadanya sehingga mampu menampung segala ketersinggungan serta dapat pula menutup lembaran lama dan membuka lembaran baru.

AlShafhu yang digambarkan dalam bentuk jabat tangan itu, menurut Al-Raghib al-Asfahaniy “lebih tinggi nilainya” dari pada memaafkan. Dalam alshafhu dituntut untuk membuka kembali lembaran baru dan menutup lembaran lama.” Let’s gone be by gone (yang lalu biarlah berlalu) bangunkan kembali masa depan dengan semangat yang baru. Kita selalu lupa, hanya kerana kesalahan yang telah dibuat orang lain, kita melupakan semua kebaikan yang pernah dibuatnya. Untuk itu, kita juga harus memperlakukan semuanya secara seimbang.

Yang terbaik buat kita hari ini adalah bersama-sama bangun kembali dengan semangat baru, ketulusan hati dan semangat persaudaraan. Jangan ada yang berkata: “Tiada maaf bagimu”. Ahli hikmah mengatakan: Ingatlah dua hal dan lupakanlah dua hal. Lupakanlah kebaikanmu kepada orang lain dan lupakanlah kesalahan orang lain kepadamu.

 

“Cinta memberi ruang memaafkan,

selama kesalahan bukan kebiasaan”,

begitu kata Asma Nadia.

 

Wallahu a’lam…

 

Advertisements

Komentar Sahabat, Penambah Semangat Saya :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s