Breastfeeding, a Great Process to be a Mom

Bismillah….

Breastfeeding aka menyusui, merupakan tahapan setelah proses melahirkan. Sebuah karunia yang Allah swt berikan kepada semua Ibu dengan fitrahNya yakni semua Ibu sebenarnya bisa menyusui putra/inya. Namun terkadang ASI yang keluar sedikit bahkan bagi sebagian ibu tidak keluar. Sebenarnya hal ini wajar terjadi pada 1-3 hari pertama, namun bisa disiasati dengan melakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dengan posisi dan pelekatan menyusui yang benar.

Image

Posisi dan Pelekatan (latch on) menyusui mungkin bagi sebagian orang dianggap hal yang mudah, sederhana, dan tidak perlu dipelajari. Beberapa tahun lalu ketika kampanye mengenai ASI dan Menyusui belum terdengar gaungnya di Indonesia, istilah Posisi dan Pelekatan (latch on) terdengar asing/aneh dan cara menyusui secara umum diajarkan turun temurun (dari Ibu/ Ibu mertua/ keluarga terdekat yang sudah berpengalaman melahirkan dan mengurus bayi).

Sebenarnya seberapa penting para Bunda mengetahui dan mempelajari mengenai Posisi dan Pelekatan (latch on) menyusui? Dalam tulisan ini, saya akan membahasnya. Hal ini merupakan kompilasi dari berbagai sumber dan para Ibu yang pernah saya dampingi..

Menurut WHO, ada 3 prinsip dasar penting yang mempengaruhi keberhasilan/kegagalan dalam menyusui. Tiga prinsip dasar tersebut adalah:

1. Teknik menyusui (Posisi dan Pelekatan/latch on) yang tepat.

2. Menyusui bayi kapan pun bayi menginginkannya/ nursing on demand

(hal ini dilaksanakan setelah proses belajar menyusui Ibu dan bayi sudah lancar, untuk bayi yang baru lahir/newborn

diupayakan Frequent Nursing, yaitu dalam sehari paling tidak 8-12x menyusui bayi). Hal ini akan dibahas di tulisan,

                  Are Mybreastfeeding Enough?

3. Bunda yang percaya diri karena 70% keberhasilan sekaligus kegagalan ASI eksklusif ditentukan oleh faktor psikologis. Bunda yang percaya diri akan memicu hormon oksitosin bekerja dengan baik. Dukungan dari pasangan, keluarga serta lingkungan sangat mempengaruhi kondisi psikologis Bunda.

Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, tulisan saya kali ini fokusnya pada prinsip dasar menyusui yang pertama. Para Bunda dan calon Bunda perlu mendapatkan kesempatan mempelajari teknik-teknik menyusui sehingga pada saatnya (pasca melahirkan), Bunda dapat memilih yang mana yang terbaik/paling nyaman untuk bayi dan Bunda.

Kalau Bunda tidak memiliki kesempatan belajar mengenai hal ini sebelum melahirkan dan pasca melahirkan Bunda mengalami kesulitan dalam menyusui, tidak perlu sungkan meminta bantuan kepada kelompok-kelompok pendukung ASI, para Konselor Laktasi dll. Dalam pengalaman saya membantu para Bunda mempelajari teknik menyusui, saya menggunakan alat bantu berupa boneka dan breast model selain menggunakan video and flip chart.

Para Bunda perlu mengetahui bahwa menyusui tidak menyakitkan baik bagi bayi maupun Bunda. Bunda juga perlu didukung agar percaya diri untuk mencari posisi menyusui yang nyaman dan proses belajar menyusui ini akan membuat Bunda lebih mengenal bayinya.

Dua pertanyaan utama untuk menilai posisi dan pelekatan (latch on) adalah:

1. Apakah bayi menyusu dengan efektif?

2. Apakah bayi dan Ibu merasa nyaman?

Apabila bayi mendapatkan ASI dengan baik, tanda-tanda kecukupan ASI-nya terpenuhi dan Bunda tidak merasakan nyeri maka posisi dan pelekatan (latch on) baik/tepat. Agar bayi mendapatkan ASI dari payudara Bunda maka bayi harus melekat/latch on. Kata “latch” sendiri mendeskripsikan cara bayi memasukkan payudara Bunda ke dalam mulutnya. Makin baik bayi melekat maka bayi akan makin mudah mendapatkan ASI Bunda dan Bunda juga akan terhindar dari nyeri pada puting dan payudara secara umum.

Untuk beberapa posisi menyusui yang akan dibahas berikutnya, beberapa Bunda perlu menopang payudara dengan tangan, terutama bagi Bunda yang memiliki ukuran payudara besar. Yang perlu diperhatikan adalah jangan menopang/memegang payudara terlalu dekat dengan puting, usahakan menopang payudara di luar areola (area gelap sekitar puting). Bentuklah jari tangan Bunda dengan bentuk huruf C / U, tidak disarankan menopang dengan 2 jari (jari telunjuk dan jari tengah) berbentuk gunting karena akan menghambat aliran ASI dan menghalangi bayi menyusu dengan nyaman. Setelah beberapa saat payudara Bunda ditopang (dengan bentuk huruf C / U) dan dirasakan bayi sudah menyusu dengan nyaman maka Bunda dapat mencoba melepaskan topangan pada payudara supaya Mama juga dapat menyusui lebih santai dan nyaman.

Bagaimanakah pelekatan/latch on yang baik?
Ada 4 kriterianya, yaitu:

1. Areola bagian atas lebih banyak terlihat.

2. Mulut bayi terbuka lebar.

3. Bibir bawah terputar keluar.

4. Dagu menempel pada payudara Bunda.

Silahkan perhatikan gambar di bawah ini yang merupakan salah satu contoh pelekatan yang baik.

Sementara gambar di bawah ini adalah tahapan bayi melekat pada payudara Bunda (yang perlu saya tekankan adalah pastikan mulut bayi terbuka lebar sebelum melekat pada payudara Bunda).

Apabila ketika bayi sudah melekat pada payudara Bunda dan bayi tidak merasa nyaman maka Bunda dapat melepaskan isapan bayi dengan menekan-menarik ke bawah dengan pelan dagu bayi / masukkan sedikit kelingking Bunda ke ujung bibir bayi. Setelah bayi melepas payudara Bunda, proses pelekatan dapat diulang kembali.

Sementara untuk posisi menyusui, ada beberapa panduan untuk para Bunda sebagai berikut:

      1. Kepala dan bayi dalam satu garis lurus.
      2. Seluruh badan bayi ditopang.
      3. Bayi dipegang dekat dengan badan Bunda.
             4.Bayi mendekat ke payudara, hidung menghadap puting.

Sebelum Bunda mulai menyusui, siapkan barang-barang yang dapat mendukung Bunda misalnya kursi yang nyaman (bila Bunda tidak menyusui di kasur), bantal, guling, penyangga kaki, dll. Di bawah ini adalah contoh gambar seorang Bunda yang menyusui di kursi yang nyaman. Tangan Bunda dan bayi ditopang dengan bantal.

Selanjutnya akan saya uraikan dengan singkat beberapa posisi menyusui yang umumnya dipilih para Bunda.

      1. Cradle Position

 

Posisi ini umum digunakan setelah beberapa minggu kelahiran bayi. Posisi ini memberikan Mama keleluasaan mengontrol posisi badan Bunda dan bayi.

2. Cross-cradle position

Posisi ini merupakan variasi dari posisi cradle.

3. Clutch/Football position

Posisi ini bisa dipilih Bunda yang melahirkan melalui SC (Section Cesaria) karena posisi ini dapat menjaga agar bayi tidak terlalu dekat dengan luka/jahitan SC.

4. Side-lying position

Posisi ini sering digunakan terutama saat menyusui malam hari atau saat Bunda lelah dan ingin beristirahat.

5. Laid-back breastfeeding position

Posisi Laid-back breastfeeding ini disebut juga Biological Nurturing. Di Indonesia kadang disebut juga posisi IMD (Inisiasi Menyusu Dini). Posisi ini bisa digunakan terutama di awal-awal kelahiran atau saat Bunda ada masalah dengan pelekatan. Gravitasi membuat badan bayi menempel erat dengan badan Bunda.

Apapun posisi yang dipilih Bunda dan bayi, tidak ada jawaban benar dan salah. Yang utama, dua pertanyaan utama yang sudah saya kemukakan di atas yaitu: Apakah bayi menyusu dengan efektif dan Apakah bayi dan Bunda merasa nyaman? Keduanya jawabannya: Ya.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi para Bunda, calon Bunda, dan para tim pendukung suksesnya ASI seperti Ayah ASI 🙂

Sumber: Gambar posisi menyusui dari La Leche League

Advertisements

2 thoughts on “Breastfeeding, a Great Process to be a Mom

  1. Ibu, sangat terima kasih atas infonya.
    saya juga menyusukan anak sudah dua, terkadang rasa mahu give up sebab anak asyik bangun sahaja tengah malam.

    sudah ting tong rasanya pening tak cukup tidur.
    Adakah tips utk anak selalu tidur lama ya..

Komentar Sahabat, Penambah Semangat Saya :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s