Donor ASI, Amankah?

Bismillah…

Donor ASI, merupakan sebuah pilihan ketika seorang Ibu tidak bisa menyusui anaknya akibat berbagai kondisi seperti:

  • Ibu meninggal,
  • Ibu sakit parah (Sepsis, Psikosis, Eklamsia atau mengalami renjatan/syok), Infeksi Virus Herpes Simpleks tipe 1 dengan lesi di payudara, Infeksi Varicella Zoster pada ibu dalam kurun waktu 5 hari sebelum dan 2 hari sesudah melahirkan),
  • Ibu mendapat sitostatika, kemoterapi, radioaktif tertentu seperti Iodine-131 & yodium atau yodofor topikal, obat – obatan antitiroid selain Propylthiouracil
  • Ibu pengguna obat terlarang, obat psikoterapi jenis penenang, obat anti-epilepsi dan opioid
  • Ibu mengalami kelainan payudara, riwayat operasi pada payudara, atau jaringan payudara tidak berkembang.

Sedangkan Suplementasi ASI diberikan ketika bayi mengalami kondisi sebagai berikut:

  • Bayi Berat Lahir Sangat Rendah (kurang dari 1500 gram) atau usia kehamilan kurang dari 32 minggu
  • Bayi berisiko hipoglikemia karena gangguan adaptasi metabolik atau peningkatan kebutuhan glukosa (Kecil Masa Kehamilan, prematur, mengalami stres hipoksik/iskemik, bayi sakit, bayi dengan ibu yang menderita diabetes) jika kadar gula darahnya gagal merespon pemberian ASI
  • Bayi dengan kehilangan cairan akut (misal karena fototerapi untuk jaundice) dan menyusui serta memerah ASI belum bisa mengimbangi kebutuhan cairan
  • BAB bayi masih berupa mekonium pada hari ke 5 pasca persalinan
  • Turunnya berat badan bayi berkisar 7 – 10% setelah hari ke 3 – 5 karena terlambatnya laktogenesis II
  • Bayi yang mengalami Slow Weight Gain/pertumbuhan yang lambat serta Failure To Thrive(FTT) / Gagal tumbuh
  • Kelahiran multiple, kembar 2, 3 dst walau sudah diupayakan menyusui langsung&memerah tetap tidak mencukupi kebutuhan bayi-bayi tersebut
  • Bayi adopsi
  • Bayi yang menderita penyakit berat atau memiliki kelainan anatomi seperti bibir & langit-langit sumbing sehingga tidak dapat menyusui langsung.

Ketika opsi donor ASI yang diperlukan & dipilih, perlu diketahui bahwa ada prosedur ketat yang harus dijalani (catatan: bagi yang beragama Islam ada hukum saudara sepersusuan yang perlu dipahami, saya akan singgung sedikit di akhir tulisan mengenai Bank ASI). Pemberian ASI donor tanpa melalui prosedur yang benar / Informal Sharing of Milk sangat beresiko. HIV, Hepatitis & virus-virus lain dapat ditularkan melalui ASI. Saat ini juga ada jenis/strain bakteri baru yang resistent terhadap obat (Antibiotika) dan sangat berbahaya yang bisa ditularkan melalui ASI. Walaupun seorang Mama meminta ASI donor dari Mama yang sudah dikenal/dari pihak keluarga sendiri, kondisi kesehatan Mama donor tersebut tidak dapat diketahui pasti tanpa melalui Screening karena walau Mama donor terlihat sehat, bisa jadi tubuh Mama tersebut sedang mengalami infeksi virus/bakteri tapi asymtomatic/tidak menunjukkan gejala. Oleh karena itu, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) sangat melarang pemberian ASI donor tanpa melalui prosedur yang benar.

Sayangnya sampai saat ini di Indonesia belum ada RS yang melaksanakan prosedur Screening sesuai standar yang dilakukan Human Milk Bank/Bank ASI di negara-negara maju seperti HMBANA (Human Milk Bank of North America-organisasi non profit dan Mama donor tidak menerima bayaran). Selain itu biaya Screening kesehatan Mama, proses Screening ASI donor, pemrosesan dan penyimpanan membutuhkan biaya yang sangat tinggi.

Nah, bagaimana proses ASI donor tersebut? Yang pertama tentu saja Screening awal Mama menyusui. Apakah Mama tersebut sanggup memberikan ASI dengan syarat, bayi/anaknya sendiri tercukupi kebutuhan ASInya. Tahap terpenting selanjutnya adalah proses tanya jawab mengenai kondisi kesehatan Mama (calon) donor yang juga diklarifikasi oleh dokter yang menangani Mama donor. Mama menyusui tidak dapat menjadi Mama donor karena hal-hal berikut :

1. Menerima transfusi darah dalam waktu 12 bulan terakhir

2. Menerima transplantasi organ/jaringan dalam waktu 12 bulan terakhir

3. Mengkonsumsi minuman keras lebih dari 2 ounces/60ml dalam 1 hari

4. Mengkonsumsi obat-obatan dalam jangka panjang

5. Mengkonsumsi vitamin/suplemen herbal dalam dosis tinggi

6. Vegetarian murni dan tidak menkonsumsi suplemen vitamin B-12

7. Menggunakan rokok & obat-obatan terlarang

8. Pernah menderita penyakit Hepatitis, infeksi kronis seperti HIV, HTLV, TBC

9. Memiliki partner seksual dalam 12 bulan terakhir yang beresiko menderita HIV, HTLV, Hepatitis  atau pengguna obat-obatan & menggunakan jarum baik jarum suntik/jenis lain untuk hal-hal lain seperti untuk tato / piercing.

skrining asi donor

Kemudian Screening kesehatan tahap kedua adalah Mama donor menjalani serangkaian tes darah meliputi : HIV-1 , HIV-2, HTLV, Hepatitis B, Hepatitis C, dan syphilis.  Apabila Mama donor lolos dalam semua tahapan tersebut maka Bank ASI telah memiliki protokol sejak Mama donor memerah. Tahap pertama adalah menjaga kebersihan dimulai dari mencuci tangan dan alat pompa dengan bersih, sementara wadah ASIperah steril sudah disediakan oleh Bank ASI yang selanjutnya Mama akan membekukan ASIperah tersebut. Wadah ASIperah menurut standar Bank ASI adalah wadah selain plastik ASIperah karena plastik ASIperah lebih beresiko untuk robek/bocor, lemak lebih banyak menempel serta lebih tinggi resiko kontaminasi.

Ilustrasi di bawah ini adalah prosedur yang dilakukan di HMBANA (Human Milk Bank of North America):

1. Scrubbing / membersihkan tangan

Tim pasteurisasi ASI donor membersihkan tangan dengan sabun antimikroba sebelum menggunakan sarung tangan. Sarung tangan selalu dipakai mulai dari penerimaan ASI donor.

2. Pouring / menuang

Selanjutnya ASI donor dipindahkan/dituang dari wadah ASIperah ke gelas kaca khusus.

3. Mixing & Pooling

Setiap kelompok ASI donor (biasanya dari 3-5 donor) akan digabungkan agar komponen ASI terdistribusi dengan baik

4. Filling bottles

Setiap gelas wadah ASIperah diisi sebanyak 4 ounces (1 ounce = 29,57 ml) sebelum proses pasteurisasi

5. Pasteurisasi dengan metoda Holder

ASI yang berada di dalam wadah ASIperah no 3  dipanaskan di suhu 62,5C selama 30 menit dalam box khusus berukuran besar berisi air. Pasteurisasi dapat mematikan bakteri dan mempertahankan kandungan nutrisi ASI.

6.Tes Laboratorium

Setelah proses pasteurisasi selesai, maka akan diambil beberapa sampel untuk di tes kultur agar diketahui apakah terdapat bakteri. ASI yang terkontaminasi segera dibuang.

7. Tahap akhir

ASI yang telah dipasteurisasi dan dinyatakan berkondisi baik kemudian dibekukan kembali untuk kemudian didistribusikan sesuai kebutuhan.

Perlu diingat bahwa HIV dapat ditularkan melalui ASI. Perhatikan syarat-syarat ketat memberi & menerima Donor ASI.

Ada satu hal yang perlu saya tabayunkan sebenarnya dari pernyataan dr Henny Zainal, di mana pernyataannya sebagai berikut : ” Takut akan HIV/AIDS? Penelitian yang diterbitkan Januari 2013 menyebutkan bahwa HIV mati oleh ASI. Jadi bukan alasan menolak donor ASI, ini perintah Allah”

Setau saya, hingga saat ini publikasi dari berbagai organisasi kesehatan internasional seperti WHO, termasuk panduan PMTCT (Prevention Mother-to-child transmission) masih menyatakan bahwa penularan HIV melalui ASI sebesar 5-20%.

Publikasi yang disebutkan dr Henny bahwa HIV dapat mati oleh ASI misalnya dari sumber ini :
http://www.med.unc.edu/infdis/news/breast-milk-kills-hiv-and-blocks-its-oral-transmission-in-humanized-mouse

Di mana penelitiannya baru dilakukan pada binatang (tikus). Selain itu, bilapun ternyata suatu saat terbukti bahwa ASI dapat mematikan HIV, terdapat banyak potensi penularan, misalnya saat memerah, puting Ibu lecet/luka, nah darah yang masuk ke ASI perah ya berpotensi menularkan HIV juga.

Yang jelas, untuk mematikan HIV dalam ASI perah caranya dengan melakukan Pasteurisasi. Hal ini sudah didukung dengan banyak penelitian.

Terdapat 3 metoda pasteurisasi ASI perah yaitu :

1. Metoda Pasteurisasi Pretoria

Pasteurisasi Pretoria

Metoda Pasteurisasi Pretoria adalah dengan memanaskan air sebanyak 450ml di panci alumunium sampai mendidih. Lalu matikan kompor, letakkan botol kaca tertutup yang berisi ASI (tidak perlu banyak, per sekali minum saja sekitar 50-120 ml) ke dalam panci selama kurang lebih 20 menit. Angkat lalu biarkan hingga suhu ASI perah siap diminum oleh bayi

2. Metoda Pasteurisasi Flash Heating

Pasteurisasi Flash Heating
Siapkan ASI perah per sekali minum (50-120 ml) ke dalam wadah ASI perah kaca tertutup. Masukkan wadah ASI perah ke dalam panci lalu tuang air mendidih hingga permukaan air mencapai sekitar 2 cm dari bibir panci. Nyalakan kompor, didihkan. Bila terdapat gelembung segera angkat wadah ASI perah. Biarkan hingga suhu ASI perah siap diminum oleh bayi
3. Metoda Pasteurisasi Holder
Pasteurisasi Holder yang biasa digunakan dalam skala besar di Human Milk Bank
Metoda ini menggunakan mesin/alat khusus dan ASI perah yang dipasteurisasi dalam jumlah banyak. Metoda Pasteurisasi Holder umumnya digunakan oleh Bank ASI seperti HMBANA (Human Milk Bank of North America).

Jika dirangkum berikut prosedur donor ASI secara medis :

Prosedur Donor ASI dr Sisi MedisJadi sebelum Ibu yang mau mendonorkan ASInya, Sudah lakukan pemeriksaan kesehatan? Sudah Skrining berbagai item di ataskah?
Catatan :
Semua ini biaya sendiri lho. Lalu bilapun lolos semua, pertanyaan berikutnya, Siapa yang lakukan Pasteurisasi nya? Lalu, di mana bisa lakukan tes lab – kultur ASI perahnya?

So, Janganlah mudah membroadcast permintaan dan penawaran ASI donor ya…..

Penuhi dulu syarat-syarat ketatnya baik secara medis maupun secara syariat bagi yang beragama Islam (Tulisan mengenainya menyusul di artikel selanjutnya, insya allah).
Semoga bermanfaat, Happy Breastfeeding :’)
Wallahu’alam Bishawab…

@nurlienda

Referensi:

F.B. Monika Purba seorang Konselor Laktasi dan La Leche League (LLL) International Leader-US (2013) Mengenai ASI Donor, Screening Ibu Donor & ASI Donor

Walker, M. (2011) Breastfeeding Management for the Clinician: using the evidence. 2nd ed. Sudburry, MA. Jones and Bartlett

Lawrence, RA. (2011) Breastfeeding: A Guide for the Medical Profession. 7th ed. Maryland Heights, MI. Mosby

ABM Protocol #3. Hospital Guidelines for the Use of Supplementary Feedings in the Healthy Term Breastfed Neonate. (2009) Revised Edition. www.bfmed.org

Israel-Ballard, K., et al. (2008) Flash-heated and Pretoria Pasteurized destroys HIV in breast milk & Preserves Nutrients! Advanced Biotech.http://www.advancedbiotech.in/51%20Flash%20heated.pdf accessed January 8, 2012

Advertisements

Komentar Sahabat, Penambah Semangat Saya :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s