Ekonomi Syariah

Bismillah…

Saat kondisi ekonomi Indonesia yang tak menentu, sistem ekonomi islam laksana air di padang gurun yang gersang…

Sebenarnya, apa sih ekonomi islam itu ?

Sistem ekonomi Islam adalah sistem yang menjadi batu bata pertama dari dakwah kenabian. Rasulullah sebelum dikenal sebagai Rasul, telah mendapat gelar shadiq (jujur) dan amin (terpercaya) dari sosok beliau sebagai seorang pedagang. Strategi penguasaan medan dakwahpun tidak terlepas dari pengalaman beliau selama menjadi pedagang. Namun pada umumnya, sejarawan kurang memperhatikan aktifitas ekonomi di pasar sebagai sentra awal perubahan besar dalam suatu masyarakat.[1] Cara beliau berdagang menjadi sumber rujukan para sahabat dalam menjalankan strategi perdagangannya. Begitu pula ketika Al Qur’an telah diwahyukan kepada Rasulullah, semua aturan terkait cara berinteraksi dalam aktivitas ekonomi disampaikan secara lengkap. Sehingga Al Qur’an dan Sunnah menjadi rujukan utama dalam sistem ekonomi Islam. Hasilnya? Perekonomian menjadi baik, selama tidak ada oknum yang menyimpang dari sistem ini. Bahkan di zaman Dinasti Khalifah Umar bin Abdul Aziz, tidak ada satupun rakyat yang layak dizakati karena tidak ada lagi orang miskin. Subhanallah…

Sistem Ekonomi Islam adalah sistem yang pelaksanaannya disandarkan pada petunjuk AlQur’an dan sunnah Rasulullah SAW.

“Kemudian kami menjadikan bagi kamu suatu syari’ah, maka ikutilah syari’ah itu. Jangan ikuti hawa nafsu orang-orang  yang tidak mengetahui.” (Al Jatsiyah: 18).

Dalam Sistem Ekonomi Islam saat ini, hukum-hukum itu dikenal sebagai Fiqh Muamalat. Fiqh Muamalat merangkum secara umum apa yang dipelajari dalam ekonomi mikro dan ekonomi makro. Menurut Dr. Mustafa Ahmad  Zarqa, pengertian Fiqh Muamalat adalah hukum-hukum tentang perbuatan manusia yang berkaitan dengan hubungan sesama manusia mengenai harta kekayaan, hak-hak dan penyelesaian sengketa. Jadi, itu semua meliputi jual-beli, sewa-menyewa, hutang-piutang, pinjam-meminjam, dan lain-lain.

Kunci sistem ekonomi Islam ini sebenarnya sangatlah sederhana, relevan dan dapat diterima logika bahkan bagi manusia yang mengaku tidak punya Tuhan sekalipun, jika mereka mau berpikir. Menurut kaidah ushul fiqh, hukum-hukum yang berlaku dalam muamalat adalah mubah jika tidak ada dalil yang melarangnya. Maka, Fiqh Muamalat mengatur prinsip-prinsip yang menjadi dasar untuk berinteraksi. Prinsip-prinsip inilah yang terbukti memberikan kecukupan bahkan kekayaan bagi tiap eksekutornya. Prinsip-prinsip Muamalah:

  • Melarang memakan makanan secara bathil (QS An Nisa’:29)
  • Melaksanakan transaksi bisnis atas dasar ridha (QS An Nisa’:29)
  • Pencatatan transaksi hutang-piutang (QS Al Baraqah:282)
  • Akad tansaksi bisnis disaksikan oleh saksi (QS Al Baqarah:282)
  • Larangan riba (QS Al Baqarah:275-279)
  • Keterkaitan sektor moneter dengan sektor riil (QS Al Baqarah:275)
  • Investasi dengan sistem mudharabah, musyarakah, ijarah
  • Sasaran kebijakan fiskal Islam melalui zakat (QS Al Maidah:60), (QS Al Anfal:41).
  • Larangan menyuap/sogok (QS Al Baqarah:188)
  • Memberikan keringanan bagi “debitur” yang tak mampu.

Secara singkat, Ekonomi Islam  merupakan sistem yang telah terkonsep dengan menjamin kecukupan. Dalam sebuah ensiklopedi paling lengkap sejagat raya, Al Qur’anul Karim, ayat 43 hingga 48 Surat An Najm, dikutip dari buku Percepatan Rezeki ;

Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis,

Dialah yang mematikan dan menghidupkan,

Dialah yang menciptakan pria dan wanita,

Dia yang memberikan kekayaan dan kecukupan.

Jika kita bermain logika dalam menyusun ayat-ayat itu, ritme kalimat sebelumnya terasa berlawanan diantara keduanya. Tawa dan tangis. Mati dan hidup. Pria dan wanita. Maka kaya, pastilah miskin. Tapi disinilah janji dari ‘Penulis’-nya, Dia akan memberikan kecukupan. Bukan kemiskinan. Jenius, bukan? Allahu akbar…

Karena pada dasarnya, Allah tidak pernah memberikan kemiskinan. Mengutip perkataan seorang Dhonald Trumph, bila kau terlahir miskin, itu bukan salahmu. Tetapi apabila kamu mati miskin, ITU SALAHMU.”

Lalu, kenapa banyak umat Islam yang miskin?

Mari kita perhatikan realita dan fakta di sekitar kita. Bahkan, yang kita sebut ustadz pun banyak yang miskin dengan berdalih mencari harta itu menjerumuskan kita untuk cinta dunia dan takut mati. Wallahu’alam, jika itu bukan sebuah alasan, saya yakin sepenuhnya bahwa itu hanya tentang perbedaan pendapat kita dalam memahami makna miskin. Namun yang jelas, dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga hanya Ali bin Abi Thalib saja yang tidak kaya.

Ketika berbicara tentang Ekonomi Islam adalah Islam itu sendiri. Islam telah mewarnai peradaban terdahulu. Ketika Islam saat ini semakin meluntur, peradaban dunia-bukan hanya dunia Islam yang saya maksud tapi sungguh universal- seluruhnya menjadi semakin bobrok. Jauh dari nilai kemanusiaan dan kesejahteraan. Konspirasi yang sedang menggurita saat ini pun, tujuannya adalah menyejahterakan satu pihak. Sedangkan cita-cita Islam adalah menyejahterakan alam raya. Jika kita anggap ini sebuah perang, tentang kalah dan menang, maka ketika Islam yang menjadi pemenang, yang kalah pun akan diperlakukan sebaik-baiknya. Bukan diperlakukan seenaknya seperti yang mungkin setiap hari terjadi di belahan bumi Islam yang masih terjajah…

Tapi, Dibalik itu semua kita masih percaya satu hal. Tentang harapan. Harapan itu pasti selalu ada. Negeri yang tidak punya harapan pastilah negeri yang telah mati. Sayangnya, Indonesia ternyata tidak separah itu untuk disebut negeri yang mati. Masih banyak orang yang mengurai harapan di negeri ini, bahkan orang pemerintah sekalipun, malah semakin banyak tiap harinya. Walaupun harapan mereka masih jauh untuk jadi nyata, tapi perlahan dan pasti, kekuatan untuk bersabar membawa mereka mewujudkan harapan itu, bahkan memberi harapan kepada yang lain.

Cerita tentang sebuah harapan :

Pada tahun 1991, bank pertama murni syariah lahir. Meruntuhkan semua anggapan miring ketika itu, dimana merek Islam menjadi label yang dianggap dapat mengganggu stabilitas pemerintahan, muslimah berjilbab pun didiskriminasi, Bank Muamalat Indonesia berdiri. Bahkan ketika saat itu, Menteri Perekonomian bukan dari umat Islam. Tapi, dengan konsep yang memang bagus, proposal ini didukung oleh beliau dan banyak pihak lainnya. Sehingga secara kelembagaan, ekonomi Islam telah resmi lahir melalui Bank Muamalat Indonesia di negeri ini. Ini merupakan salah satu harapan yang dimaksud. Sebuah sistem solutif.

Bagaimana Bank Syariah dapat eksis dan diterima oleh masyarakat?

Menurut A. Riawan Amin, Dirut BMI saat ini dan penulis buku Satanic Finance, masih banyak kekurangan yang ada dalam perbankan syariah saat ini. Namun, itu jauh lebih baik dari pada tidak ada sama sekali. Perbankan syariah ibarat tanaman, masih kecil, tapi jika banyak pihak yang tidak mendukung atau malah memvonis melabelkan haram pada bagian-bagian yang ada dalam sistem bank syariah, sama saja dengan membonsaikan ekonomi Islam sendiri. Karena sesungguhnya tujuan ekonomi Islam bukan hanya sekedar membangun sebuah bank syariah dengan market share yang mendominasi. Bukan itu sepenuhnya. Tapi harapannya, bank syariahlah yang akan menjadi lokomotif penggerak sistem ekonomi Islam and It’s all about process… Hingga kapan? Hingga umat ini siap mendukung sepenuhnya pertumbuhan bank syariah. Jadi, sekecil apapun kontribusi Anda dalam menjauhi ekonomi ribawi, semakin optimis negeri ini tanpa riba.

Pola pelaku ekonomi yang seharusnya berprinsip pada keadilan, kepercayaan, tidak ada kedzhaliman, serta kejelasan dalam tiap transaksi atau yang biasa disingkat MAGHRIB: MAisir, GHarar, RIba, Bathil. Ditambah lagi instrumen zakat yang membedakan sistem ini dengan sistem lainnya. Inilah hakikat kaya yang sebenarnya. Ketika harta yang ada dipegang oleh orang yang shalih, maka itu adalah sebaik-baiknya harta.[2]

Nah, Kami tidak memaksa pembaca untuk memahami apa yang disampaikan dalam ulasan ini, tapi lebih berharap semuanya mau memahami bahwa sistem ini telah Allah sediakan untuk kita. Ketika semua sistem buatan manusia tak lagi ada yang ampuh.

Hanya saja, benarlah jika kebaikan yang tidak terorganisasi dapat dikalahkan dengan kejahatan yang terorganisasi (Ali bin Abi Thalib). Umat Islam belum sepenuhnya bersatu untuk mengatur sistem kehidupannya. Menjadikan Islam sebagai prinsip hidup, paradigma keoptimisan pada sistem ekonomi berlandaskan Islam, dengan Fiqh Muamalat yang mengatur pengelolaan harta bagi mereka yang berharta agar ‘tak ada lagi kemiskinan’.

Wallahu’alam bishawab….

Bagaimana dengan Anda, setujukah jika ekonomi syariah ditegakkan di Indonesia ?

@nurlienda

 

Referensi :

[1] Suryanegara, Ahmad Mansur. Api Sejarah 1.Cet. III; Bandung : Salamadani Pustaka Semesta, 2010 M/1431 H), halaman 34.

[2] http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/3113-sebaik-baik-harta-di-tangan-orang-yang-sholih.html

 

 

Advertisements

Komentar Sahabat, Penambah Semangat Saya :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s