Belajar Menjadi Relawan, Niat Baik Saja Cukupkah?

Bismillah…
Relawan, salah satu pelaku aktivitas yang saat ini sudah tak asing…
Banyak aktivitas yang melibatkan relawan atau voluntir belakangan ini…

Jadi relawan itu yang penting semangat dan niat baik. Skill itu nomer sekian lah

Selentingan kalimat yang sering terdengar…
Mungkin Anda pun menjadi bagian dari pernyataan seperti itu?
Di satu sisi saya sepakat, iya jika itu diucapkan masyarakat biasa yang mempunyai kepedulian untuk membantu. Tapi jika diucapkan oleh relawan lembaga kemanusiaan yang berulang kali terjun di berbagai daerah bencana? Relevankah? Apakah tidak ada kompetensi khusus yang dibutuhkan? Apakah tidak ada layanan minimum agar penyintas dapat dilayani dengan baik, tidak seadanya? Adakah?

Pada hari senin 29 Februari 2016, Saya berkesempatan mengikuti orientasi Standar Kemanusiaan Inti (Core Humanitarian Standard/CHS) di Kantor Platform Nasional PRB. Acara yang diikuti 23 peserta dari 21 lembaga kemanusiaan diselenggarakan oleh Masyarakat Peduli Bencana Indonesia, didukung oleh PLANAS PRB, Asia Pacific Alliances for DRR dan Japan Foundation. Standar kemanusiaan Inti dibuat oleh Humanitarian Accountability Partnership (HAP) International, People In Aid dan the Sphere Project untuk menciptakan standar kemanusiaan yang selaras dan dapat digunakan oleh semua pengguna.

Kenapa lembaga kemanusiaan perlu menggunakan CHS?

Sederhananya supaya kita bisa memberikan layanan terbaik kepada penyintas. “Evolusi dunia kemanusiaan saat ini telah mencapai masa dimana berbuat kebaikan itu tidak hanya dengan niat baik. Tapi juga akuntabilitas, kualitas dan kompentensi” ujar Iskandar Leman yang menjadi fasilitator di orientasi tersebut.

Dalam pelaksanaannya, CHS dipandu dengan 4 prinsip yang telah diterima secara umum oleh lembaga-lembaga kemanusiaan. Keempat prinsip dalam Standar Kemanusiaan Inti (CHS) :

1. Kemanusiaan

Penderitaan manusia harus ditangani di mana pun ditemukan. Maksud kerja kemanusiaan adalah melindungi kehidupan dan kesehatan serta menjamin penghargaan terhadap manusia.

2. Imparsialitas

Aksi Kemanusiaan harus dilaksanakan hanya berdasarkan kebutuhan saja, dengan memberikan prioritas pada kasus yang paling mendesak dan tidak membuat pembedaan berdasarkan kewarganegaraan, ras, jenis kelamin, keyakinan agama, kelas atau pandangan politik.

3. Independensi

Aksi kemanusiaan harus terbebas dari tujuan-tujuan politik, ekonomi, militer atau tujuan lain yang mungkin diemban oleh aktor lain di wilayah di mana kerja kemanusiaan sedang dilaksanakan.

4. Netralitas

Pekerja kemanusiaan tidak boleh memihak dalam permusuhan atau terlibat dalam pertentangan yang bersifat politik, ras, keagamaan atau ideologis.

Selain prinsip yang menjadi panduan, ada 9 komitmen yang merupakan tanggung jawab penggiat dan lembaga kemanusiaan di dalam CHS, yaitu :

1. Komunitas dan warga terdampak krisis menerima bantuan yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan mereka
2. Komunitas dan warga terdampak krisis mempunyai akses terhadap bantuan kemanusiaan yang mereka perlukan pada waktu yang tepat
3. Komunitas dan warga terdampak krisis bebas dari dampak negatif dan akan menjadi lebih siap, lebih tangguh dan kurang berisiko setelah menerima aksi kemanusiaan
4. Komunitas dan warga terdampak krisis mengetahui hak-hak mereka yang dijamin oleh hukum, mempunyai akses terhadap informasi dan terlibat dalam proses pengambilan keputusan yang berdampak pada diri mereka
5. Komunitas dan warga terdampak krisis mempunyai akses terhadap mekanisme pengaduan yang aman dan responsif
6. Komunitas dan warga terdampak krisis menerima bantuan yang terkoordinasi dan saling melengkapi
7. Komunitas dan warga terdampak krisis dapat mengharapkan penyaluran bantuan yang lebih baik, karena organisasi belajar dari pengalaman dan refleksi
8. Komunitas dan warga terdampak krisis menerima bantuan yang mereka butuhkan dari staf dan relawan yang kompeten dan dikelola dengan baik
9. Komunitas dan warga terdampak krisis dapat mengharapkan bahwa organisasi yang membantu mereka mengelola sumber-sumber daya dengan efektif, efisien dan etis.

Belajar Menjadi Relawan, Niat Baik Saja Cukupkah

Nah, komitmen itu kembali diturunkan menjadi aksi kunci dan tanggung jawab organisasi agar bisa dilaksanakan baik oleh penggiat kemanusiaan dan lembaga kemanusiaaan. Faktanya, Indonesia telah mengadopsi standar itu dalam Standar Nasional Indonesia (SNI) No 7937:2013 tentang Layanan Kemanusiaan dalam bencana.

Buat saya secara pribadi, mengadopsi standar ini dalam kegiatan kemanusiaan yang saya lakukan menjadi sangat penting. Kenapa? Supaya saya bisa memberikan yang terbaik untuk anak Indonesia. Saya juga memastikan bantuan yang saya berikan tepat dan tidak menimbulkan efek negatif untuk anak-anak. Dan penting juga agar CHS juga diterapkan di Kidzsmile Foundation, lembaga tempat saya bernaung. Agar semua relawan mempunyai standar layanan yang sama dalam berbagi senyum untuk anak Indonesia.

Bisakah bantuan yang kita berikan membahayakan penyintas?

Dari pengalaman saya di dunia kebencanaan, itu bisa terjadi. Misal bantuan susu formula untuk bayi di daerah bencana akan membuat bayi berisiko terkena diare. Sedangkan diare adalah salah satu penyebab utama kematian bayi. Mengapa bisa demikian ? Penjelasan lengkapnya disini

Atau yang sering kita abaikan, seberapa banyak program yang dijalankan menghargai hak seorang anak? Apakah program pendidikan atau psikososial yang dijalankan mempunyai dasar rujukan yang tepat?

Ah PR kita memang banyak sekali. Tapi kita akan kerjakan semua Untuk senyum anak Indonesia
Kak Idzma
Relawan Kemanusiaan – Founder Kidzsmile Foundation

Sebuah renungan untuk kita sebagai relawan dan penggiat kemanusiaan. Ternyata kita perlu memperhatikan banyak aspek selain niat baik. Kemampuan yang mumpuni tentunya sangat dibutuhkan, upgrading dan terus belajar, mari ditempuh dengan sukacita… Yuk pahami dan aplikasikan pedoman Standar Kemanusiaan Inti ini secara bertahap dan konsisten 🙂

Bagaimana denganmu, Apa yang sedang dan akan dilakukan untuk mencapainya? 

#ODOPfor99days #day38
@nurlienda

Advertisements

4 thoughts on “Belajar Menjadi Relawan, Niat Baik Saja Cukupkah?

  1. Pingback: #ODOPfor99days Putaran Kedua | Family Nutrition

  2. Pingback: #ODOPfor99days Putaran Kedua | Family Nutrition

Komentar Sahabat, Penambah Semangat Saya :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s