Yuk Berperan dalam Pengendalian Rokok di Indonesia

Bismillah

Prevalensi merokok di Indonesia mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Tahun 2013, proporsi penduduk Indonesia usia 15 tahun ke atas yang merokok sebesar 36.3%. Proporsi merokok ini mengalami kenaikan sebanyak 2.1% dari proporsi merokok tahun 2007 34.2 %. Perilaku merokok ini dilakukan juga oleh remaja awal sebagai perokok pemula. Survei Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2015, prevalensi merokok di Indonesia sebesar 36% laki-laki dan 4,3% perempuan usia 10 tahun ke atas yang diklasifikasikan sebagai perokok, menempati salah satu urutan tertinggi di dunia. Perilaku merokok yang tinggi ini nampaknya tidak terpengaruh oleh himbauan tentang bahaya rokok yang tertera di kemasannya.

Mayoritas perokok di Indonesia adalah kalangan miskin, kelompok masyarakat yang tidak bekerja (9.9%) dan kelompok masyarakat berdaya ekonomi rendah, seperti buruh, petani, atau nelayan (32.3%). Tidak mengherankan bila fakta membuktikan bahwa pengeluaran yang tinggi untuk rokok pada keluarga miskin telah mengesampingkan hak anggota keluarga (terutama ibu dan anak) untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Sehingga pengeluaran rumah tangga untuk rokok mereduksi pengeluaran untuk kebutuhan pokok. Masyarakat yang merokok memiliki risiko yang lebih tinggi pada kejadian morbiditas dan mortalitas akibat penyakit degeneratif, sehingga produktivitas kerja akan berkurang dan berdampak pada pendapatan mereka.

Kita dapat berperan dalam pengendalian rokok berupa :
1. Advokasi
Pengendalian rokok memerlukan advokasi lintas sektor, bukan hanya ahli gizi dan tenaga kesehatan lainnya namun memerlukan advokasi pada lembaga-lembaga terkait, organisasi masyarakat, pihak swasta dan industri tembakau. Ahli gizi dapat melakukan advokasi baik berupa media cetak maupun pertemuan-pertemuan formal dan non-formal serta mendukung dalam penyusunan kebijakan.

2. Promosi Kesehatan
Multilevel promosi kesehatan dapat dilakukan bersama komunitas dan organisasi, bersinergi dengan tenaga promkes pada level Puskesmas, Rumah Sakit maupun Dinas Kesehatan. Selain itu secara individu maupun institusi, ahli gizi dapat mengoptimalkan berbagai media baik cetak maupun digital. Pemanfaatan sosial media dan integrasi dalam mata pelajaran di Sekolah (Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Biologi) dengan target remaja awal dan perokok pemula dapat dijadikan agenda pokok untuk meningkatkan derajat kesehatan sumber daya manusia di masa yang akan datang. Penggunaan facebook, blog, instagram dan sosial media lainnya dalam penyebaran informasi mengenai pengendalian tembakau perlu dilakukan secara masif, menarik dan terstruktur agar dapat dipahami oleh remaja.

Yuk Berperan dalam Pengendalian Rokok di Indonesia

Sumber gambar disini

3. Penguatan Pengendalian Rokok di Rumah Tangga
Mengedukasi dan memberikan social support tentang Perilaku Hidup Sehat dan Bersih (PHBS) yakni tidak merokok di dalam rumah dan berhenti merokok dengan cara bersinergi bersama tenaga promkes, para ketua PKK, kader dan posyandu yang menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan di masyarakat. Hal ini perlu dilakukan karena jika dalam suatu keluarga ada seorang perokok, maka anggota keluarga lain juga dapat terkena dampak penyakit akibat menghirup asap rokok tersebut (perokok pasif), sehingga akan membutuhkan biaya perawatan kesehatan. Kematian bayi dan balita pada keluarga miskin perokok lebih tinggi dibandingkan non-perokok. Perbandingan angka kematian balita pada keluarga dengan ayah perokok dan bukan perokok adalah 8,1%. vs 6,6% di perkotaan; 10,9% vs 7,6% di pedesaan.

Merokok berpengaruh pula terhadap status gizi dan penyerapan beberapa zat gizi sehingga edukasi mengenai kebiasaan merokok yang berdampak pada kecukupan gizi keluarga perlu dilakukan. Perokok di Indonesia menghabiskan 11.5% pengeluaran untuk membeli rokok, sedangkan untuk membeli bahan makanan bergizi, seperti ikan, daging, telur, dan susu hanya sekitar 11%. Hal ini tentu berdampak pada anggota keluarga lain, karena alokasi pengeluaran untuk membeli bahan makanan bergizi berkurang, terjadi risiko malnutrisi pada anggota keluarga lain, terutama pada anak dan dapat menyebabkan kematian. Kebiasaan merokok dapat dialihkan untuk membeli berbagai macam bahan makanan yang bergizi, seperti lauk hewani, buah-buahan dan sayur.

Penelitian Pfeiffer et al. (2013) menjelaskan bahwa kadar folat, vitamin C, 4PA (4-pyridoxic acid serum sebagai hasil akhir katabolisme vitamin B6) dan PLP (pyridoxal-5’-phospate sebagai indikator vitamin B6) pada perokok lebih rendah daripada non-perokok. Kadar vitamin C yang rendah dalam tubuh dapat menyebabkan radikal bebas dalam tubuh meningkat, sehingga dapat meningkatkan risiko penyakit degeneratif.

4. Pemberdayaan Masyarakat
Role model untuk tidak merokok (bentuk personal action) yang didukung dengan keluarga bebas rokok (small group), menginisiasi dan mengupayakan lingkungan sekitar untuk menjadi kawasan tanpa rokok (KTR). Langkah pemberdayaan masyarakat lainnya adalah dengan membentuk partnership dengan tokoh masyarakat, organisasi masyarakat, lembaga-lembaga dan pihak swasta untuk mendukung bebas asap rokok pada area publik sehingga bisa meningkatkan kesadaran masyarakat dan para aktivis untuk hidup bebas rokok dan dapat melakukan advokasi kepada pemerintah dan lembaga terkait (social and political action).

5. Konseling kepada Perokok
Konseling dilakukan dengan memberikan informasi mengenai kerugian merokok dari segi kesehatan dan finansial keluarga menggunakan pendekatan cost benefit jika berhenti merokok (alokasi pembelian rokok untuk 1 orang dapat dialihkan untuk berbelanja bahan makanan bergizi untuk 1 keluarga). Pemberian tips untuk berhenti merokok berupa mengganti kebiasaan merokok dengan mengunyah permen karet (sugar-free), anjuran untuk menyiapkan buah segar atau jus buah saat craving. Mereka dapat segera mengonsumsi buah segar atau jus sebagai pengganti rokok.

Berbagai upaya untuk pengendalian penggunaan tembakau (rokok) diharapkan dapat menurunkan angka kebiasaan merokok dan mencegah perokok pemula…

Yuk saling menguatkan untuk menjadikan lingkungan sekitar bebas asap rokok…

Untuk hidup yang lebih baik, insya allah…

@nurlienda

#‎ODOPfor99days‬

#day94

5 Cara Mengolah Makanan saat Camping

Bismillah…

Libur telah tiba, saatnya beraktivitas outdoor seperti camping bersama keluarga, sahabat maupun rekan kerja…

Jika menyiapkan makanan saat camping telah dibahas disini

Cara pengolahan selama camping pun penting untuk diperhatikan…..

Kita akan membahas lima cara mengolah makanan saat camping :

1. Menggoreng

Cara memasak yang paling mudah dan menambah asupan energi dari segi lemak. Tapi ketika semua masakan diolah dengan cara demikian, radang tenggorokan dapat menjadi efek samping setelah mengonsumsinya… Jadi bijaklah dalam mengonsumsi makanan yang digoreng-goreng ya, apalagi saat bepergian dan beraktivitas outdoor

2. Merebus

Mudah, tapi cenderung menghabiskan banyak bahan bakar… Warna yang dihasilkan lebih pucat, cocok untuk suasana dingin, makanan berkuah menjadi nilai tambahnya dan sup adalah andalannya…

3. Menumis

Memasak dengan sedikit minyak ini, mempertahankan zat gizi dari segi vitamin dan mineral lebih baik untuk sayur. Lauk yang dimasak dengan cara ini pun lebih baik tampilannya. Pengkayaan rasa dari bumbu dasar diperlukan dalam pengolahan ini.

4. Dibakar

Membakar lauk, menghasilkan aroma khas yang meningkatkan selera makan, cocok ketika nafsu makan menurun akibat kelelahan… Sebaiknya dipergunakan sesekali saja.. Efek aromatik dari pembakaran ternyata bisa menjadi bahan karsinogen, pemicu kanker jika berlebih ambang batasnya.

5. One Dish Meal

Menggabungkan komponen karbohidrat, lauk dan sayur menjadi 1 hidangan adalah pilihan yang cocok ketika waktu memasak terbatas. Nasi goreng adalah salah satu hasilnya…

Makanan yang tersedia, apapun ketika lapar mendera, akan menjadi makanan terbaik, terlezat..

Dengan menyiasati komponen makanan, akan membantu kita dalam menjaga kebugaran tubuh dan badan agar tetap fit ketika beraktivitas.

5 cara mengolah makanan saat camping

Tips ketika beraktivitas outdoor seperti camping :

Susu adalah suplemen tambahan. Tidak hanya berfungsi sebagai sumber protein, juga mengatur keseimbangan ketika terjadi keracunan. Suplemen yang perlu dibawa adalah vitamin C dengan takaran 50-100 mg/hari, vitamin B1 untuk menjaga metabolisme tubuh tetap terjaga dan adaptasi maksimal.

Semoga bermanfaat…

@nurlienda

#‎ODOPfor99days‬

#day78

Project Seumur Hidup

Bismillah

Ketika sedang memegang sebuah project atau program, apa yang sahabat rasakan ?

Antusias, menggebu-gebu dalam mengerjakannya, full power dan passionate ?

Apakah sahabat memiliki sebuah project seumur hidup ?

………………………………………………………………………………..

Bagi saya, “Hafidzah itu proyek hidup!”

Menyelesaikan setoran dengan lisan terbata, tak lancar-lancar itu biasa. Ditegur sahabat sebab ayat-ayat lupa, kurang dan diulang-ulang akhirnya berputar-putar. Namun ketika teringat Syaikh Sudais yang sempat lupa satu ayat, asaku kembali bangkit bahwa tiada yang sempurna, melainkan perjuangan penuh pengorbanan.

“Hafidzah itu proyek hidup!”

Akan kukatakan, ketika diri ini futur, tak mau lanjutkan hapalan.

Sering mandet dan tak ada waktu untuk menambah dan mengulang hapalan.

Bukankah sebenarnya kita yang sering cari alasan?

Alasan-alasan klasik tak sempat bercengkrama dan berjumpa dengan Al quran….

Hanya menggunakan waktu sisa untuk bermesraan dengannya penuh ketenangan?

Astagfirullah…..

Layakkah kita memberikan waktu sisa untuk Quran?

“Hafidzah itu proyek hidup! ”

Akan kucoba untuk semangati diri, ketika tak kunjung kuat hapalan namun usia terus berputar penghabisan. Hafalan itu kita perjuangkan seumur hidup, kita ulang seumur waktu, kita tanam sedalam qalbu.

Bukan sehari hapal, atau sebulan hapal, setahun hapal. Tapi kita ulang ulang, bahkan tiada berkehabisan….

“Hafidzah itu proyek hidup!”

Ada orang yang setahun hapal, dua tahun hapal bahkan 30 hari hapal. Tapi bukan cepat atau waktu hapal, hafidz/ah adalah tentang kau menjaganya sepanjang zaman, setegar jiwa. Menghapalnya dalam kesulitan dan kemudahan.

“Hafidzah itu proyek hidup!”

Kala muda kala tua. Tak pandang usia, yang terpenting adalah kita memulainya, menjaga dan bersemangat bersamanya. Tak peduli kau jatuh, lupa, dan tertinggal….

“Hafidzah itu proyek hidup!”

Membaca al-quran, menghafalkan dan mengamalkannya tidak akan mengurangi waktu…

Secara hitungan matematika dunia, membaca al-quran tampak seolah-olah mengurangi waktu. Padahal waktu yang digunakan untuk membaca al-quran itu tidak hilang, ia akan diganti oleh allah swt dengan keberkahan yang berlipat ganda… Insya allah

project seumur hidup

Mohon doanya, sahabat…

Allahumma Yassir Wala Tuassir, Hasbunallah
Laa illaha illa anta subhanaka inni
kuntumminadzholimin….

@nurlienda

#‎ODOPfor99days‬

#day77

Bentuk Pendidikan yang Hakiki

Bismillah
Pendidikan merupakan sarana untuk merubah nasib seseorang,
Salah satu upaya untuk memutus mata rantai permasalahan,
Dan terkadang menjadi sebuah mekanisme yang ramai diperbincangkan masyarakat…

Apa sih tujuan pendidikan ?
Untuk Apa kita menjalani pendidikan ?
Pendidikan formal, non formal, maupun informal yang telah dilakoni selama belasan tahun….

Lima bentuk pendidikan sebagai tujuan yaitu :
1. Spiritual: Cara untuk mencapai tujuan Hidup. Belajar dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah swt, agar derajat naik di hadapan-Nya, agar visi hidup tercapai, dsb.
2. Individu: Guna mencapai harapan pribadi. Ingin menyandang gelar, ingin menjadi contoh bagi anak…
3. Sosial: Untuk kebermanfaatan bagi orang lain. Misalnya agar bisa menghasilkan karya untuk umat, membangun lembaga dan gerakan untuk membantu orang lain, dll.
4. Instrumental: Terkait syarat gelar, ijazah, dan level pendidikan untuk mendapat jabatan. Agar naik pangkat jadi manager, kepala bagian bahkan diangkat direktur.
5. Vokasional: Terkait kompetensi yang ingin dikuasai. Belajar teknik memasak, agar mampu merancang menu sehat, bergizi dan seimbang untuk keluarga…

Yuk dicek, manakah yang hilang atau sering kita lupakan ?
Mana yang sekedar kita pikirkan dan ucapkan di awal namun lewat sambil lalu saja saat menjalani sebuah pendidikan ?
Mana yang benar-benar kita jadikan pegangan dan tak pernah lepas dari pikiran sebagai sebuah tujuan kuat yang kita kejar ?

bentuk pendidikan yang hakiki bercermin pada pagar inspiratif

Sebuah pengingat diri, akan bentuk pendidikan yang hakiki… Semoga tulisan ini bermanfaat….
Disarikan dari tulisan Dr. Yosal Iriantara

@nurlienda

#‎ODOPfor99days‬

#day75

Belajar memahami diri

Bismillah

Jika akan membangun rumah, harus melalui momen-momen dimana material berserakan dan debu beterbangan.
Jika mengusir virus, harus mengijinkan tubuh menciptakan mekanisme bernama demam dan meriang.

Jika tumbuh payudara, harus melalui masa-masa sangat sensitif dan nyeri dengan sentuhan.
Ketika lahiran pun, mesti mengalami sebuah fase memahami dan menerima: bahwa sejatinya nyeri hadir sebagai mekanisme alamiah, yang menandakan tubuh sedang bekerja dengan baik. Untuk melahirkan bayi…

Apapun bentuknya, semua proses “TUMBUH” dan “berkembang” memang selalu memerlukan perubahan.

Perubahan akan menghadirkan rasa tidak nyaman. Sehingga satu hal yang wajib kita miliki untuk bertumbuh adalah… Sebuah kesadaran…

belajar memahami diri

Belajar memahami diri, sebuah proses berdamai dengan diri. Untuk berdamai dengan proses dan mengijinkan rasa tidak nyaman itu hadir. Apa adanya…. Sebagai bagian dari hidup dan kehidupan….

Terima rasa nggak nyamannya ya, Nak. Tubuhmu yang sedang demam… Niscaya sedang berproses menuju keseimbangan.

“You need chaos in your soul to give birth a dancing star” ~ Nietzsche

Disarikan dari tulisan Dyah Pratitasari

@nurlienda

#ODOPfor99days
#day49

Jogja, Destinasi Ilmu

Bismillah…

“Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju ke surga”-HR. Muslim

Sebuah hadist yang menggambarkan upaya yang tengah di tempuh saat ini… Ya, saat ini kami sedang berikhtiar, mengupayakan salah satu jalan guna meraih RidhoNya, insya allah… Walaupun tengah berpisah dengan keluarga tercinta.. Hadist tersebut begitu menyentuh dan menguatkan ketika merantau untuk mencari ilmuMu yang terserak… Ilmu yang Maha Luas, Maha Besar dan Sempurna…

“Dan allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa batas” (QS. An-Nur: 38)
Alhamdulillah, atas segala kenikmatan yang allah swt anugerahkan…
Berbagai episode untuk berada di Jogja telah digariskanNya… Sebuah awalan yang indah dari proses pencarian ilmu…  Doakan agar ilmu yang tengah didalami ini menjadi jalan-jalan pembuka kebaikan dan bermanfaat baik di dunia dan akhirat…

Kebahagiaan dalam episode ini insya allah akan terus bergulir.. Semakin terasa ketika kita berbagi kebahagiaan tersebut kepada orang-orang di sekitar kita….

jogja destinasi ilmu

Teringat sebuah peribahasa yang dikatakan oleh Abdullah Ibnu Abbas : “Ilmu itu dimiliki dengan lidah yang banyak bertanya dan Akal yang gemar berfikir”. Sebuah bekal yang nyata dalam pencarian ilmu yang hakiki sebenarnya…

@nurlienda

#ODOPfor99days

#day88

Global strategy on diet, physical activity and health

Bismillah

A lot of people suffering non-communicable disease, today…

The Global Action Plan for the Prevention and Control of Noncommunicable Diseases 2013–2020 proposes that “as appropriate to national context, countries consider the use of economic tools that are justified by evidence, and may include taxes and subsidies, to improve access to healthy dietary choices and create incentives for behaviours associated with improved health outcomes and discourage the consumption of less healthy options”.

The Comprehensive Implementation Plan on Maternal, Infant and Young Child Nutrition 2012 also considers that “trade measures, taxes and subsidies are an important means of guaranteeing access and enabling healthy dietary choices”. Furthermore the Report of the Commission on Ending Childhood recommends to “implement an effective tax on sugar-sweetened beverages”.

To address the increasing number of requests from Member States for guidance on how to design fiscal policies on diet, the World Health Organisation (WHO) convened a technical meeting of global experts in fiscal policies on 5–6 May 2015 in Geneva.

The main objectives of the meeting were to review evidence and existing guidance, discuss country case studies and provide considerations with regards to the scope, design and implementation of effective fiscal policies on diet. It was concluded that there is reasonable and increasing evidence that appropriately designed taxes on sugar sweetened beverages would result in proportional reductions in consumption, especially if aimed at raising the retail price by 20% or more.

So, we can do a lot of things, start from our foods and beverages that we choose… Let’s do more physical activity and do healthy life. If you need the recomendation just click here

@nurlienda

#ODOPfor99days

#day73